startup

Apa Perbedaan Startup B2B, B2C, dan C2C dalam Mengembangkan Bisnis?

startup

Memperhatikan perbedaan startup B2B, B2C, dan C2C sangat penting guna menentukan strategi yang akan dipakai. Selain itu juga berkaitan dengan bagaimana untuk mengembangkan bisnis berdasarkan jenis startup tersebut.

B2B adalah bussiness to bussiness yang merujuk pada model startup bekerja sama dalam penjualan antar pelaku bisnis. Contoh perusahaan B2B misalnya bisnis yang mensuplai barang mentah dari luar negeri untuk pabrik. Dalam hal ini, kamu punya perusahaan terdaftar yang mengumpulkan barang dari luar. Kemudian kami bekerja sama untuk perusahaan dalam negeri sebagai penyuplai barang mentahnya.

Pengertian B2C adalah bussiness to customer yang menjadi model startup paling umum di Indonesia. Model perusahaan seperti ini sangat populer di masa digital, sebab mereka dapat memasarkan produk melalui berbagai platform digital yang mengarah langsung ke konsumen. Baik via marketplace, media sosial perusahaan, maupun situs web perusahaan.

Sedangkan jenis startup C2C adalah customer to customer yang merujuk pada model konsumen menjual produk (barang maupun jasa) kepada konsumen lain. Proses penjualan C2C bisa melalui direct langsung maupun melalui pihak ketiga seperti marketplace.

Perbedaan Startup B2B, B2C, dan C2C Lebih Rinci

Selain dari pengertian di atas, guna mengetahui perbedaan secara ketiganya secara lebih detail untuk menentukan strategi marketing maupun pemasarannya, berikut informasinya.

1. Market Target

Melihat dari market target jenis B2B dan B2C sudah tampak jelas, bahwa B2B menyasar perusahaan atau bisnis lain. Sedangkan contoh B2C mengarah secara langsung ke konsumen di seluruh negara. Hal ini berpengaruh pada jenis pemasaran dan bagaimana mereka melakukan kerja sama.

Sedangkan C2C memang sama menyasar konsumen langsung, tetapi model promosi antara pelaku bisnis dengan konsumen/individu tentunya berbeda. Umumnya, B2C sudah punya ‘nama’ untuk brand mereka, sedangkan C2C bisa dikatakan freelance dan menjual dengan lebih bebas untuk produk yang tidak terikat.

2. Strategi Marketing

Perbedaan startup B2B, B2C, maupun C2C dalam strategi marketing merupakan yang tampak sangat spesifik. Perusahaan B2B menggunakan strategi yang bertujuan untuk meningkatkan reputasi bisnis mereka. B2C meningkatkan reputasi dengan cara yang berbeda, seperti mengadakan event, diskon, dan promosi yang menyentuh emosi konsumen.

Sedangkan C2C jenis strategi marketing lebih bebas lagi. Jika bisnis lokal, seringkali hanya melakukan promosi di media sosial. Sedangkan kalau menjangkau seluruh Indonesia, dengan sering melakukan up produk baru. Namun bisa saja model C2C menerapkan strategi yang sederhana, asal jalan, atau berdasarkan keadaan.

3. Kompetisi Bisnis

Persaingan menjadi tantangan yang akan selalu ada untuk semua jenis bisnis. Berdasarkan jangkauan market target, B2B mempunyai persaingan yang lebih sedikit. Reputasi seakan menentukan segalanya, sehingga tidak bisa kamu peroleh secara instans begitu saja.

B2C mempunyai kompetisi bisnis yang lebih tinggi, sebab langsung menjangkau konsumen. Apalagi ketika produk dari pelaku bisnis B2C sama dengan brand lain yang sama-sama terkenal. Persaingan akan jadi lebih menyulitkan.

Perusahaan C2C mengandalkan produsen untuk stok produk mereka. Dengan kondisi seperti ini, kompetisi untuk C2C lebih mengarah ke harga, lebih murah atau mahal. Ketika harganya lebih tinggi daripada B2C, seringkali konsumen lebih memilih produk yang sudah mempunyai nama (official store).

C2C juga mengalami persaingan yang menyulitkan antar penjual lainnya, hal ini bisa kamu lihat di marketplace untuk jenis produk barang yang sama. Tidak hanya produk barang, melainkan juga jasa yang banyak bermunculan.

Ketika memilih jasa dari C2C, maka membutuhkan portofolio atau pengalaman yang benar-benar matang. Sebab secara umum, harga C2C lebih murah namun lebih sulit mencari yang terbaik daripada B2C yang merupakan agensi di bidang jasa.

Demikian beberapa informasi mengenai perbedaan startup B2B, B2C, dan C2C secara umum. Mengetahui jenisnya punya manfaat untuk menentukan marketing terbaik dengan tujuan mengembangkan usaha.

startup

Alasan Startup Gagal yang Wajib Kamu Hindari

startup

Penyebab dan alasan gagal tidak tunggal. Ada banyak faktor yang punya andil dalam menentukan apakah sebuah perusahaan startup akan berkembang atau justru gulung tikar. Produk dari perusahaan startup bisa berupa barang maupun jasa, hal ini tergantung pada arah gerak startup itu sendiri.

Artikel ini akan membahas macam-macam penyebab kegagalan startup di Indonesia secara umum. Tujuannya agar kamu bisa menghindari, atau setidaknya mengantisipasi, supaya tidak terjadi di perusahaan startup milikmu.

Alasan Startup Gagal, Hindari atau Antisipasi

Membaca dari pengalaman pengusaha yang mengalami kegagalan dalam menjalankan bisnis, alasan startup gagal yang mereka alami seringkali berbeda. Kamu bisa menilai apa yang perlu ditingkatkan dalam perusahaanmu, serta apa yang menjadi unggulan untuk terus berkembang.

1. Kekurangan Modal

Pendanaan sebuah startup yang notabene merupakan perusahaan rintisan, menjadi sangat penting. Umumnya sumber modal dari individu atau pendirinya. Modal menjadi alasan klasik dan paling banyak yang menjadi penyebab terjadinya bangkrut pada perusahaan.

Venture capital bisa menjadi solusi pendanaan untuk startup. Sebelumnya, kami sudah membahas mengenai jenis pendanaan venture capital, tampaknya akan membantu.

2. Produk Bukan yang Market Butuhkan

Umumnya, ketika anak muda membuka startup akan menghasilkan produk yang bersifat idealis. Namun abai dengan kebutuhan market yang justru bisa menjadi jembatan mewah mengembangkan perusahaan. Triknya, kamu bisa menjual produk umum namun memberi ciri khas dari brand perusahaan.

3. Masalah Internal Startup

Sudah banyak contoh startup yang gagal lantaran persoalan internal dan struktur yang belum terorganisir dengan matang. Misalnya ketika kamu membangun perusahaan startup dengan sistem kerja sama dari nol dengan rekan. Hal ini bisa menjadi masalah di kemudian hari jika tidak ada kesepakatan atau perjanjian pembagian kerja dan posisi yang tepat.

4. Kurang Jaringan atau Relasi

Selain masalah dalam startup yang berkaitan dengan tim internal, jaringan atau relasi networking juga menentukan apakah perusahaan bisa dikenal lebih luas atau tidak. Misalnya relasi dengan media nasional daring guna memasang iklan di websitenya.

5. Kompetisi yang Gila-Gilaan

Kompetisi yang luar biasa menjadi alasan startup gagal berikutnya. Mengapa? Sebagai contoh, kamu mempunyai produk dengan harga Rp1.000, namun banyak kompetitor yang memasang harga Rp900. Selisih harga produk 10 rupiah di zaman digital, terutama marketplace online, mempunyai pengaruh yang signifikan.

Selain kompetisi harga, promosi besar-besaran dari perusahaan lain yang punya modal lebih besar, tim lebih andal, serta jaringan lebih luas sangat berbahaya. Lama-lama perusahaan startup kamu bisa tersingkir dan menghilang dari pasar.

Kamu bisa memilih antara 2 cara, mengikuti kompetisi dengan mengambil risiko sumber daya lebih besar. Atau menyingkir dari kompetisi dengan mengeluarkan produk yang unique. Jika memilih yang belakangan, maka risikonya berkaitan dengan pertanyaan apakah ada market untuk produk tersebut?

6. Ide dan Inovasi yang Mandek

Sebagaimana perkembangan teknologi yang terus mengalami perubahan, startup juga bersifat dinamis. Artinya, mereka harus menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi berdasarkan zaman. Ide dan inovasi menjadi lebih penting guna menciptakan ‘kolam’ untuk para konsumen kamu.

Peran ide dalam sebuah perusahaan menjadi tulang belakang. Ia menyangga berdirinya sebuah perusahaan ke depannya nanti. Ada banyak strategi yang dapat kamu terapkan untuk masuk ke dalam pasar secara elegan.

Menambah wawasan sambil jalan sangat penting supaya tidak terjadi stagnasi. Nyatanya, berjalan walaupun lambat jauh lebih baik daripada mandek di titik yang sama. Demikian beberapa alasan startup gagal yang wajib kamu hindari.

Pembagian Saham

Cara Membagi Saham untuk Founder Lebih dari Satu, Ternyata Begini

Pembagian Saham

Cara membagi saham untuk founder pada startup yang masih baru mempunyai beberapa pertimbangan. Pertama, pertimbangan berupa modal, yang mana terbagi menjadi modal materi dan modal non materi. Modal materi misalnya uang tunai, sedangkan modal non materi ada banyak ragamnya seperti waktu, tenaga, ide, dan sebagainya.

Kedua, pertimbangan berupa valuasi startup itu sendiri. Kemudian pembagian fee founder dan co founder harus jelas supaya tidak terjadi persaingan. Saham menjadi kepemilikan dari penyertaan modal, baik itu dari pihak founder maupun investor dengan perhitungan tertentu.

Jika tidak ada negosiasi, kesepakatan, atau perjanjian tertulis dalam membangun startup bersama bisa berakibat pada permusuhan. Lantas, bagiaman cara membagi saham untuk founder yang lebih dari satu?

Cara Membagi Saham untuk Founder, Berikut Penjelasannya

Dalam artikel  Harvard Business Review berjudul The Very First Mistake Most Startup Founders Make, negosiasi pembagian saham sebaiknya kamu lakukan ketika startup sudah cukup matang (bukan di awal). Bedakan antara memperjelas fee dengan pembagian saham, ya.

Kalau kamu melakukan negosiasi tentang pembagian saham antar founder di awal, hal ini akan cukup sulit. Sebab, keadaan di masa depan masih banyak yang belum pasti.

Pada intinya, untuk negosiasi dan proses pembagian saham antar founder tidak ada aturan yang berlaku secara universal (umum). Pembagian murni dari kesepakatan bersama masing-masing founder tersebut.

Contoh Membagi Saham untuk Founder dengan Tambahan Venture Capital

Dalam sebuah startup yang sudah cukup matang, nilai valuasi startup tersebut misalnya Rp100 miliar. Pembagiannya misalnya founder 1 sebagai Chief Executive Officer (CEO) mempunyai saham 50%. Sedangkan founder 2 sebagai Chief Technology Officer (CTO) mempunyai saham 10%.

Berdasarkan kesepakatan antara founder 1 dan founder 2, 10% saham untuk Employee Stock Option Plan (ESOP) atau kepemilikan saham untuk karyawan startup yang merupakan benefit keuntungan dari perusahaan. Dalam hal ini, bisa Chief Marketing atau karyawan lain berdasarkan kebijakan dari perusahaan startup itu sendiri.

Lantas seiring berjalannya waktu, startup mereka berkembang dan sebuah perusahaan venture capital tertarik untuk menanam modal dengan membeli saham sebesar 10% dengan harga Rp1 triliun. Secara otomatis, nilai valuasi startup dan persentase kepemilikan saham masing-masing founder berubah.

Hasilnya, valuasi startup yang semula Rp100 miliar menjadi Rp10 triliun. Founder 1 (CEO) 45% saham dengan valuasi Rp4,5 triliun. Founder 2 (CTO) 36% saham dengan valuasi Rp3,6 triliun. ESOP 9% saham dengan valuasi Rp900 miliar. Serta perusahaan venture capital 10% saham dengan valuasi Rp1 triliun.

Mungkin kamu bertanya-tanya, bagaimana perhitungan kok yang semula 50% berubah jadi 45%. Dan yang semula 40% berubah menjadi 36% setelah ada perusahaan yang membeli saham? Pada intinya kembali lagi, bahwa perhitungan tersebut sepenuhnya merupakan kesepakatan antar founder serta kebijakan perusahaan.

Kesimpulan

Secara umum, pembagian saham paling tinggi berada di tangan pemilik modal utama. Artinya, orang yang mendanai sejak awal berdirinya startup tersebut. Sehingga tak heran founder 1 sebagai CEO mendapat persentase yang paling tinggi yaitu 50%.

Tidak hanya itu saja, masing-masing founder harus memperhatikan apa itu Break Even Point (BEP). Dengan menentukan BEP, maka pembagian menjadi tepat karena berdasarkan kontribusi yang mereka berikan kepada perusahaan selama ini. Sekian beberapa gambaran cara membagi saham untuk founder di startup rintisan dengan keadaan tertentu.

pitch deck startup

Pitch Deck Startup Bagus Memikat Investor untuk Memberi Modal

pitch deck startup

Pitch deck startup adalah presentasi singkat yang berisi berbagai macam hal dengan tujuan utama meyakinkan investor untuk memberi pendanaan untuk bisnis kamu. Lantas, apa saja materi yang ada di dalam pitch tersebut?

Ada banyak contoh pitch deck yang dapat kamu sesuaikan dengan arah gerak bisnis. Termasuk template pitch yang menarik, profesional, dan memberi ruang untuk informasi terbaik. Faktanya, sekitar 30% startup gagal berkembang lantaran kekurangan modal dalam produksinya.

Maka dari itulah, mendapat investasi menjadi salah satu solusinya. Untuk bisa mendapatkannya, kamu akan melakukan presentasi terkait hal-hal penting tentang perusahaan. Antara lain: arah gerak usaha, apakah produk konsumen butuhkan atau tidak, rencana dan peluang bisnis, dan informasi lain yang berkaitan dengan usaha kamu.

Menyusun Materi Pitch Deck Startup yang Tepat

Umumnya, dalam sebuah presentasi banyak pengusaha yang sukses meyakinkan investor karena menggunakan rumus 10/20/30. Angka tersebut sebagai jembatan keledai untuk mengingat bahwa 10 mewakili jumlah slide, 20 mewakili waktu presentasi, dan 30 mewakili ukuran font.

Untuk membuat pitch deck startup sebenarnya bisa menggunakan aplikasi Windows sederhana seperti Power Point. Pastikan juga melakukan editing, menambahkan informasi visual (infografik), hingga menyesuaikan ukuran dengan masing-masing proyektor.

Setelah semua hal teknis selesai, selanjutnya mengisi materinya. Beberapa hal yang sebaiknya ada dalam materi pitch deck antara lain: tentang startup, fenomena, solusi (produk sebagai solusi), peluang, kompetisi, tim, hingga rencana A dan B.

Supaya lebih mudah ketika presentasi, kamu bisa menyusun berbagai macam informasi tersebut ke dalam infografik. Misalnya diagram lingkaran, diagram batang, atau diagram garis.

Hal Penting dalam Membuat Pitch Deck Startup

Berbicara mengenai presentasi, kamu yang pernah menempuh perguruan tinggi tentu saja tidak asing dengan hal tersebut. Bahkan setiap mata kuliah umumnya membutuhkan presentasi, dari sinilah kamu sudah belajar menjadi pemateri yang benar-benar menguasai pembahasan.

1. Menghilangkan Gambar Dekoratif Berlebihan

Mungkin kamu berpikir bahwa pitch deck startup yang punya banyak gambar dekoratif di tiap slide itu baik. Justru kenyataannya sebaliknya, berbagai macam contoh pitch deck dari perusahaan raksasa Dropbox, Linkedin, hingga Uber tidak ada gambar dekoratifnya.

2. Sesuai Ketentuan Penulisan yang Profesional

Hal yang sangat simpel namun ternyata penting guna memberi tahu kepada investor bahwa kamu punya tim profesional. Contoh yang sering keliru, penulisan judul, awalan dan kata depan, dan penggunaan tanda baca.

3. Hindari Terlalu Banyak Teks dalam Slide

Presentasi sebagai alat untuk membantu kamu mengingat apa saja yang akan disampaikan. Begitu pula di dalam mempresentasikan sebuah pitch deck, kamu harus menguasai materinya alih-alih membaca slide yang muncul di layar proyektor.

4. Gunakan Jenis Huruf yang Mudah Dibaca

Perkirakan dengan tepat berapa jarak antara layar proyektor dengan investor berada. Apakah pada jarak tersebut jenis huruf ini sesuai? Apakah pada jarak tersebut ukuran ini bisa terlihat?

5. Hanya Modal Pitch Deck?

Hal lain yang penting kamu perhatikan dalam mempresentasikan pitch deck adalah membawa dokumen pendukung. Proyektor hanya sebagai perantara, fokus investor tetap padamu sebagai pembicara. Siapkan juga dokumen seperti rincian rencana usaha, dokumentasi, hasil riset pasar, dan sebagainya.

Itulah beberapa pengenalan mengenai pitch deck startup dan contohnya yang sebaiknya kamu pahami dari sekarang. Kemampuan public speaking juga sangat penting guna mendukung memikat keyakinan investor untuk menanamkan modal ke usaha kamu.

startup

6 Level Startup beserta Contohnya, dari Cockroach hingga Hectocorn

startup

Ada sebanyak 6 level startup secara umum, antara lain tingkatannya mulai dari cockroach hingga hectocorn. Informasi dalam artikel ini bisa kamu jadikan rujukan untuk menilai sebuah startup maupun perusahaan kamu sendiri.

Sebagai contoh, valuasi startup Indonesia yang lebih dari Rp14,1 triliun disebut sebagai tingkatan unicorn, antara lain ada Tokopedia, GoJek, BukaLapak, dan Traveloka. Selain tingkatan unicorn tersebut, ada beberapa tingkatan lain baik yang berada di atas maupun di bawahnya.

6 Level Startup secara Umum

Sebaiknya kamu tidak tertawa melihat penamaan tingkatan startup berikut ini, sebab namanya mirip hewan mitologi. Berikut sudah kami rangkum mulai dari yang urutannya paling rendah ke paling tinggi.

1. Cockroach

Level usaha cockroach atau kecoak merupakan yang paling rendah. Untuk kategori startup yang masih sangat baru kamu rintis. Ternyata, penyebutan kecoak, untuk level paling rendah ini bukan tanpa alasan.

Walaupun struktur internal belum terorganisir dengan baik, bahkan belum mempunyai produk unggulan yang bersifat final, startup cockroach dianggap punya daya tahan hidup yang tinggi. Ya, mirip dengan kecoak yang bahkan masih hidup setelah kepalanya terpenggal dan hanya mati karena tidak bisa makan.

Startup level cockroach punya semangat luar biasa dan masih sangat giat dalam membuat inovasi maupun kreasi terbaiknya. Tidak heran jenis ini lebih sering investor lirik untuk memberikan modal maupun venture capital.

2. Ponies

Urutan kedua dari 6 level startup ada ponies. Seperti penampakannya, ponies berupa kuda yang masih imut dengan ukuran lebih mini dari kudu pada umumnya. Sebuah startup dikatakan berada pada level ponies jika nilai valuasinya sampai Rp140 miliar.

Mungkin kamu bertanya-tanya, kok bisa Rp140 miliar hanya berada di tingkat kedua? Sebagai informasi, valuasi merujuk pada keseluruhan aset dari sebuah perusahaan/usaha. Artinya, nilai tersebut bukan omzet.

3. Centaurs

Pada tingkatan ketiga dari 6 level startup ditempati oleh centaurs, hewan mitologi setengah kuda dan setengah manusia. Makin tinggi levelnya, maka nilai valuasi usaha juga semakin besar, pada level usaha centaurs ini mencapai Rp1,4 triliun.

Kestabilan dalam startup ini mulai terlihat, serta semua hal yang berkaitan dengan struktur internal sudah matang. Hanya 1 tingkat lagi untuk mencapai level unicorn.

4. Unicorn

Sebagaimana yang sudah kami sampaikan di atas, ada beberapa contoh startup di Indonesia yang berada di level unicorn. Yaitu startup yang punya nilai valuasi mencapai Rp14,1 triliun. Faktanya, GoJek merupakan startup pertama di Indonesia yang tercatat mencapai level ini pada tahun 2016 silam.

Sedangkan apa contoh startup di luar negeri yang sudah mencapai level ini? Ada cukup banyak, contohnya Pinterest dan Dropbox.

5. Decacorn

Dengan nilai valuasi sebesar Rp140 triliun, level decacorn merujuk pada tingkatan internasional. Pada tingkat Asia Tenggara ada Grab yang meraih decacorn pada 2019. Sedangkan di luar negeri ada nama-nama perusahaan raksasa seperti Uber, Xiaomi, dan SpaceX.

6. Hectocorn

Tentu saja, di atas langit masih ada langit. Pada tingkat tertinggi di antara 6 level startup bernama hectacorn. Nilai valuasi perusahaan sebesar Rp1.400 triliun atau setara dengan 100 miliar dollar! Contohnya ada Google, Microsoft, Apple, dan Meta.

Perusahaan yang berada di level bawah tetap bisa meningkat menuju level yang lebih tinggi. Diprediksi bahwa Uber akan masuk ke dalam level tertinggi di waktu dekat ini. Itulah 6 level startup secara umum, lantas di level mana perusahaan kamu sekarang?

Apa itu sociopreneur? Berikut Pengertian Sociopreneur dan Contoh Nyata

Apa pengertian sociopreneur? Sebelum itu, kita semua pasti sudah mengenal istilah wirausaha atau dalam bahasa Inggris disebut entrepreneur. Dalam bidang usaha atau bisnis, ternyata ada banyak jenisnya, tidak hanya entrepreneur saja. Salah satunya yang cukup populer di kalangan wirausahawan milenial adalah sociopreneur atau wirausaha sosial.

Sociopreneur menurut cashlez adalah bisnis yang berjalan berdasarkan pengaruhnya terhadap sosial masyarakat dan lingkungan. Ide bisnis seorang sociopreneur, umumnya berangkat dari masalah sosial sekitar, kemudian bisnis itu muncul sebagai solusi atas masalah tersebut.

Tokoh dan Contoh Sociopreneur di Indonesia

Sesuai dengan pengertian sociopreneur, ternyata banyak tokoh yang sudah menerapkan dan sukses di Indonesia. Mereka tidak hanya mendapatkan profit materi saja, tetapi juga mampu memberikan manfaat untuk masyarakat sosial.

1. Tarjono Slamet

tarjono slamet

Mendirikan Yayasan Penyandang Cacat Mandiri yang mana semua karyawan di dalamnya merupakan disabilitas. Tarjono Slamet memiliki pengalaman kelam, pada 1990 kaki kirinya harus dokter amputasi serta kesepuluh jari tangannya tidak dapat bergerak lantaran kerusakan syaraf. Namun Tarjono Slamet kembali bangkit dan memulai sociopreneur hingga berkeliling dunia.

2. Mesty Ariotedjo

mesty ariotedjo

Memanfaatkan situs web untuk menggalang dana, Mesty Ariotedjo melalui wecare.id merealisasikan kepedulian untuk kesehatan masyarakat. Terutama masyarakat kurang mampu di pelosok daerah Indonesia.

3. Masril Koto

masril koto

Masril Koto melihat kenyataan dalam sektor pertanian yang terdapat masalah seperti modal. Menjadi seorang petani, membuatnya paham betul apa yang benar-benar mereka butuhkan. Walaupun belum merasakan lulus Sekolah Dasar (SD), dirinya berhasil mendirikan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA) Prima Tani di daerahnya.

Misi utama dari LKMA Prima Tani tersebut adalah mensejahterakan para petani dengan berbagai macam produk tabungan. Antara lain tabungan persiapan persalinan, biaya pendidikan anak, hingga tabungan untuk pajak kendaraan.

Selain ketiga tokoh dan contoh bidang sociopreneurnya di atas, masih ada ratusan bahkan ribuan orang yang peduli dengan sesama. Dengan mengetahui apa itu pengertian sociopreneur, barangkali di lingkungan sekitar Kamu ada sosok sociopreneur serupa mereka.

Tips Sociopreneur yang Sebaiknya Kamu Tahu

Memberikan dampak positif dan baik kepada masyarakat sekitar atas bisnis Kamu, akan memberi rasa kepuasan tersendiri. Berikut ini beberapa tips utama dalam membangun sociopreneur yang baik.

1. Mendalami Isu dan Ide Bisnis Sociopreneur

Seorang sociopreneur berangkat dari isu dan fenomena sosial, ketika kamu mempunyai ketertarikan di sana, maka bisa memberi solusi dengan bisnis tertentu. Namun jauh sebelum itu, kamu harus paham betul terkait fenomena sosial tersebut.

Kemudian perbanyak riset hingga mendapat kesimpulan yang valid. Langsung memulai tanpa konsep atau perencanaan justru bisa berakibat kurang baik. Hal ini juga berkaitan dengan ide bisnis sociopreneur kamu supaya memberikan hasil terbaik untuk masyarakat dan lingkungan.

2. Transparansi Menjadi Kunci dalam Menjalankan Bisnis Sociopreneur

Untuk menghindarkan dari kecurigaan, khususnya untuk penyumbang dana, seorang sociopreneur harus menjalankan usaha atau bisnis dengan transparan. Setelah membuat pembukuan yang matang dan rinci, kamu dapat menambah dengan membuat situs web untuk menyampaikan informasi.

3. Menyeimbangkan Profit dan Dampak Bisnis

Supaya bisnis bisa terus menjadi solusi dari fenomena sosial tersebut, maka bisnis harus tetap berjalan dengan mendapatkan profit. Hal ini tentunya tidak semudah saat dikatakan, kamu harus menyeimbangkan antara profit materi dengan dampak baik ke sosial.

Itulah penjelasan pengertian sociopreneur, tokoh dan contoh, serta bagaimana tips dasar memulainya. Semoga bermanfaat!

Astra Startup Challenge BATCH 6 Tahun 2022 Telah Di buka !!!

APA ITU ASTRA START-UP CHALLENGE?

Astra Startup Challenge (ASC) merupakan salah satu rangkaian program pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang digagas oleh Astra dan didukung oleh Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Republik Indonesia. Tujuan dari ASC adalah untuk membantu generasi muda usia 18-35 tahun meningkatkan motivasi dan inovasi dalam berwirausaha secara kreatif. Program ini akan mendukung startup untuk berkembang menjadi institusi bisnis yang siap tumbuh dan menghadapi persaingan.

Program ini terdiri dari beberapa kegiatan utama :

1. Proposal Submission
Peserta akan diseleksi berdasarkan proposal bisnis yang akan dilakukan atau berdasarkan kondisi bisnis yang sedang dimiliki saat ini. Rencana bisnis yang diajukan untuk ASC akan dievaluasi oleh panel profesional bisnis.

2. Entrepreneur Camp
Peserta yang telah lolos seleksi proposal, akan diundang oleh Astra bersama Badan Inkubator yang telah dipilih oleh Astra untuk mengikuti Entrepreneur Camp selama 3 hari 2 malam secara gratis. Peserta akan dibekali hal-hal menarik mengenai startup dan bersiap untuk sukses di dunia bisnis. Dalam Entrepreneur Camp, peserta juga akan diseleksi menjadi finalis ASC dan berhak mengikuti mentoring.

3. Mentoring
Para finalis ASC berkesempatan mendapatkan pendanaan atau peminjaman modal usaha, pendampingan, dan pelatihan program selama 6 bulan secara gratis baik melalui direct mentoring maupun melalui online. Direct mentoring dilakukan sebanyak 3 kali pertemuan dan finalis akan dibekali 6 paket modul bisnis secara gratis. Disetiap pertemuan mentoring terdapat mini competition yang akan menentukan klasemen sementara finalis ASC.

4. Astra Startup Challenge Awarding
Tiga finalis ASC dengan nilai klasemen tertinggi akan mendapatkan hadiah uang tunai sebagai dana bantuan usaha oleh Astra dan paket wisata rohani untuk 3 pemenang.

5. Lifetime Coaching
Para finalis berhak mendapatkan kesempatan coaching seumur hidup dengan para ahli dan startup hingga bisnis berkembang dan sukses memiliki revenue yang ditargetkan. Serta berkesempatan menjadi mitra binaan PT Astra International Tbk, Astra Ventura, FIFGROUP, dan Yayasan Dharma Bakti Astra.